Rihlah

Rihlah Kelas 3 Pondok Pesantren Al-Khoir TP. 2019/2020

Ustadz Abdi Putra Siregar

Rihlah merupakan kebutuhan sekunder setiap individu. Siapapun orangnya pasti butuh hiburan.  Seperti syair nasyid Raihan, “berhibur tiada salahnya, karena hiburan itu indah.”

Tapi rihlah yang pastinya mendatangkan ridho Allah. Bukan sekadar hura-hura menyenangkan nafsu syaithoni seperti mabuk-mabukan, atau perbuatan maksiat lainnya.

Rihlah ini lebih bersifat kondisional. Sesuai kebutuhan. Tidak menjadi program Pesantren Al-Khoir. Sebab pesantren tidak ingin membebankan biaya-biaya rihlah dengan menjadikannya program wajib. Program rihlah ini mutlak atas permintaan para santri dan santriwati kelas III yang sejak awal semester telah dipersiapkan untuk mengikuti serangkaian ujian, baik ujian yang bersifat nasional : UNBK, UAMBNBK. Dan ujian lokal : UAM, ujian akhir pondok (UAP) dan ujian lainnya.

Salah satu tujuan dari program rihlah ini adalah untuk menyegarkan otak dan jiwa para santri dan santriwati yang sudah terbebani oleh banyaknya agenda belajar tambahan dan serangkaian simulasi-simulasi ujian.

Tepat pada malam Jum’at, rombongan santri kelas III yang berjumlah 32 santri dan 2 orang ustadz pembimbing melakukan rihlah ke negeri ranah minang. Sebuah negeri yang memiliki keelokan alam dan keunikan sendiri.

Menyusul setelahnya santriwati kelas III berjumlah 25 orang dengan 3 ustadzah pembimbing, yang berangkat Sabtu malam dengan tujuan yang sama. Tapi hanya beda waktu keberangkatan saja. Hal ini dilakukan untuk saling menjaga agar santri dan santriwati tidak saling bertemu.

Rihlah ini dilaksanakan selama 3 hari 4 malam (06 – 10) untuk santri. (07 – 11) untuk santriwati. Hari pertama menuju Painan, Pantai Carocok.Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Padang, Pantai Air Manis, Mesjid Raya Sumatera Barat, kemudian Padang Panjang, Lembah Anai, Bukit Tinggi, Jam Gadang, Gua (Lubang) Jepang.

Rihlah ini dimaksudkan untuk mentadabburi ayat-ayat kauniyah Allah Swt. Dengan melihat langsung keindahan alam raya ini, kita tak lupa bersyukur, menambah keimanan, wawasan dan pengalaman.

Banyak dari santri dan santriwati yang belum pernah menginjak kaki ke ranah minang. Mereka terlihat antusias sekali. Meskipun ada saja halangan dan rintangan kecil yang hampir membuat rihlah ini gagal.

Selain itu, rihlah ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam karakter setiap santri dan santriwati. Sebab ada kata-kata bijak dari para traveler,”jika kalian hendak mengetahui kepribadian seseorang. Pergilah berjalan bersamanya selama tiga hari.”

Kemudian juga bisa menjadi tolak ukur tentang pembiasaan-pembiasaan seperti ibadah dan disiplin lainnya sudah melekat atau belum dalam diri setiap santri dan santriwati.

Menurut penuturan para pembimbing selama mengamati, hal-hal ibadah seperti sholat 5 waktu, alhamdulillah telah tertanam dalam diri santri dan santriwati.

Kegiatan rihlah bisa menjadi sebuah ajang evaluasi bagi penyelenggara pendidikan. Dan pastinya jadikanlah program rihlah, study tour, jalan-jalan atau apalah namanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara merenungi ciptaan-Nya. Wallahu’alam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.